Jumat, 01 Mei 2026

Hakikat Lelah ku..

Plot twist nya ternyata aku lelah pada kehidupan bukan karena perjalanan S3.
Berapa banyak yang kutahan sendiri, berapa banyak yang kusimpan sendiri, berapa banyak aku merasa terseok seok untuk bertahan hidup. Tadinya tak paham kenapa kalau ada yang meninggal seringkali disebut Allah lebih sayang, ya karena mungkin itu salah satu jalan melepas kelelahan panjang hidup di dunia. Hidupku baik, sangat baik tapi rasa lelah itu terus hadir. Luka yang seringkali jadi trauma yang hilang dan timbul tanpa bisa ditebak bahkan kadang tak mampu dikendalikan. Satu satunya alasan adalah karena bunuh diri itu dosa! Selebihnya aku menjalani hari hari dengan survive dari satu hal menuju hal lainnya, dari satu hari menuju hari lainnya. Padahal secara sadar aku pun belum siap pulang, amalku terlalu kopong, terlalu ringan untuk citaku bertemu Rabb dan nabi di Surga. 

Rabu, 18 Maret 2026

Rasa yang Tak Diketahui Siapapun

Kukira sudah waktunya meninggalkan blog ini, ternyata aku masih butuh ruang untuk menuliskan rasa-rasa yg tak nyaman. Nanti mati ku akan seperti apa ya? Adakah yg akan dgn tulus hadir mengantarkan dan mendoakan? Adakah kebaikan yg tertinggal, adakah orang2 yg akan mengingat kenangan baik, adakah doa tulus melangit untuk menghiasi keindahan di kehidupan baru?
Jika masih ada kesempatan panjang untuk ku hidup mengumpulkan bekal, bagaimana kah aku akan menjalani kehidupan itu? Akankah diberi kesempatan hidup bersama manusia2 yg memberikan rasa aman, memberi ruang yg menenangkan, dan memberi ku tempat di hati terdalam. Akhirnya aku tahu kenapa ayah dulu begitu sering memuji dan bersuka cita utk setiap pencapaiianku, krn ternyata waktu ayah tdk lama bersamaku. Semua kenangan itu setidaknya pengingatku bahwa ada yg menjadikanku manusia spesial di matanya, aku tak seburuk itu. Meski sekarang semua kulalui sendiri, pencapaian kurayakan sendiri, kesulitan kuselesaikan sendiri, kesedihan kusimpan sendiri, keinginan kuwujudkan sendiri. Tanpa ada yg menanyakan are you oke? Tanpa ada yg bilang gapapa, aku temenin ya.Tanpa ada yg ingin tahu apa yg kamu suka dan tak suka. Tanpa ada yg ingin tahu seberapa besar keinginanmu utk menyerah pd hidupmu. Sampai terkadang menerka2 pertanyaan, ohh apa krn ini kalau ada yg meninggal selalu dibilang Allah lebih sayang. Karena beratnya kehidupan yg akhirnya membawamu ingin pulang.

Tak pernah terkoneksi

Bukankah kamu sudah tau, kalau kamu mmg tidak dianggap menjadi bagian dari rumah itu. Kenapa masih harus sedih? Bukankah kamu sebelumnya juga sudah menyadari arti dirimu disana, knp masih sedih. Bukankah kamu sudah benar2 sadar kalau mmg kamu tidak ada artinya? Lalu, kenapa masih berharap.
Kamu mmg tak punya siapa pun yg melihatmu dgn rasa syukur akan ada nya dirimu, tapi bukankah selama hidup mmg bukan utk dilihat atau diakui manusia? 
Bukankah kamu mmg bukan siapa2, jd cukup jalani hidupmu, bahagiakan dirimu, siapkan kematianmu.